Insight

Buku ‘Mengunyah Buku, Melahap Ilmu’, Merekonstruksi Makna “Kutu Buku” di Era Digital

Foto: perpusnas.go.id

Jakarta – Humas Perpusnas. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) bersama Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) menggelar Bedah Buku dan Seminar Literasi Nasional bertajuk “Kutu Buku: Mengunyah Buku, Melahap Ilmu”. 

Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan Perpusnas sekaligus Wakil Ketua Umum IPI, Edi Wiyono, menilai bahwa judul buku “Kutu Buku: Mengunyah Buku, Melahap Ilmu” cukup provokatif. “Buku ini provokatif, pada tujuan merekonstruksi makna istilah kutu buku yang selama ini kerap dipandang negatif dan pasif. “Saya menyebutnya provokatif karena judul ini memberi nyawa baru bagi pengertian kutu buku dan menjadi identitas yang melegakan bagi para pembacanya,” ujarnya dalam sambutan pembuka, Rabu (28/1/2026).

Ia menjelaskan bahwa konsep “mengunyah” dan “melahap” dalam judul buku menggambarkan proses literasi yang utuh. “Mengunyah dimaknai sebagai proses membaca dan memahami secara perlahan, sedangkan melahap merujuk pada kemampuan menyerap dan memanfaatkan ilmu sebagai tujuan akhir membaca,” terangnya. “Buku ini menegaskan bahwa buku adalah sarana yang kita kunyah, sedangkan ilmu adalah tujuan akhir yang dilahap.” tambahnya.

Edi mengungkapkan, buku ini memuat pesan penting mengenai budaya literasi sebagai instrumen strategis pembentukan generasi berpikir kritis sekaligus penggerak peradaban manusia. Ia meyakini, penulis menelusuri sejarah tulisan sejak masa kuno hingga revolusi percetakan, serta menyajikan strategi praktis menjaga fokus membaca di tengah derasnya distraksi digital.

Selain itu, dirinya mencermati bahwa buku ini mengulas sejumlah karya berpengaruh yang telah mendorong perubahan sosial dan politik. “Buku ini mengajak pembaca memahami pentingnya membaca secara mendalam dan berperan aktif dalam menyikapi arus informasi, termasuk disinformasi dan hoaks yang marak di era digital,” ulasnya.

Seminar ditutup dengan ajakan untuk menjadikan membaca sebagai kebiasaan sehari-hari yang menjadi landasan kreativitas dan inovasi. Buku diharapkan tidak hanya menjadi sumber informasi, tetapi juga sarana memperluas wawasan, mengasah daya pikir kritis, serta berkontribusi bagi peningkatan literasi dan kemajuan bangsa Indonesia.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Perpusnas dan IPI juga menandatangani Perjanjian Kerja Sama antara IPI dan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perpusnas. Kerja sama ini difokuskan pada pengembangan kompetensi pustakawan dan pengelola perpustakaan melalui penguatan kapasitas profesional sumber daya manusia perpustakaan. (SA/ Ed: DRS/ Dok: AA, ATK)

Sumber: perpusnas.go.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *